Selasa, 15 November 2022

peran dan nilai guru penggerak

Profil Pelajar Pancasila merupakan bentuk konkret, manifestasi, pelaksanaan, pengaktualan, pengejawantahan, penjelmaan bentuk ideal dari pelajar Indonesia. Rule model sebagai long life learning, yang nantinya diharapkan memiliki kompetensi menyeluruh, eksis di ranah global tanpa meninggalkan ciri budaya serta kearifan lokal. Ia memiliki karakter terpuji, berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dengan enam ciri utama: beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.

Profil Pelajar Pancasila merupakan target dari pelaksanaan program guru penggerak. Guru Penggerak harus mampu membentuk siswa yang memiliki keinginan belajar sepanjang hayat. Dari Guru Penggerak itu juga nantinya diharapkan lahir pelajar yang memiliki jiwa pemimpin. Untuk itu guru penggerak harus dapat memberikan pendidikan yang holistic, mampu mendorong tumbuh kembang anak, orientasi Guru Penggerak harus berpihak kepada murid. Diharapkan juga mampu membuat guru menjadi mentor. Agar guru penggerak sendiri dapat bermanfaat bagi rekan-rekan seprofesinya yang bukan guru penggerak, membuat ekosistem yang berdaya, selalu belajar berbagi.

Untuk bisa melakukan amanah besar tersebut seorang guru terlebih dahulu harus paham benar beragam kompentensi utama dari guru penggerak, yakni memimpin pembelajaran, mengembangkan diri dan orang lain, memimpin manajemen sekolah, memimpin pengembangan sekolah. Ia harus mahfum pula tentang nilai- nilai yang mutlak melekat pada sosok guru penggerak yakni, mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid.

Berikut ini pengalaman saya terkait nilai-nilai tersebut.

Peran yang sering saya lakukan adalah “Mewujudkan Kepemimpinan” , yaitu mendorong munculnya peningkatan keberanian, percaya diri, kemandirian, dan memicu keluarnya jiwa sebagai pemimpin untuk semua murid di sekolah. Saya melakukannya agar siswa berani tampil, memiliki kepercayaan diri yang bagus, lihai berkolaborasi serta mandiri dalam belajar. Saya berharap dengan mampu memunculkan jiwa kepemimpinan tiap siswa, akan menumbuhkan motivasi siswa untuk belajar, sekaligus bentuk pendidikan/penumbuhan karakter baik siswa di sekolah.

Contoh yang pernah saya lakukan adalah mewajibkan siswa melakukan presentasi di depan kelas. Saya melatih siswa untuk terbiasa tampil di depan banyak orang, berbicara, menyampaikan gagasan dan pemikirannya tentang suatu topik. Siswa juga saya biasakan bisa memimpin diskusi di dalam kelas saat proses pembelajaran berlangsung. Saya awali hal ini dengan melatih siswa memimpin doa dan memberikan tanggung jawab kecil di dalam kelas untuk dilaksanakan setiap hari.

Peran yang jarang saya lakukan adalah “Menggerakkan Komunitas Praktisi”, karena saya belum pernah membuat komunitas belajar untuk para rekan guru tapi hanya sebagai pengikut/anggota di komunitas tersebut. ( Karena saat ini, saya masih terbilang junior di sekolah saya ). Di forum MGMP Kabupaten pun saya masih junior, tetapi Alhamdulillah saya berusaha berkontribusi dan mulai tahun ini saya dipercaya untuk ambil bagian sebagai pengurus, bagian SDM.

Saya sering mengajak siswa melakukan diskusi secara berkelompok di dalam kelas, baik daring maupun luring, untuk membahas penyelesaian suatu masalah dalam pembelajaran, Setelah itu saya meminta siswa untuk memaparkan hasil diskusi kelompok mereka ke dalam forum diskusi kelas. Di forum itu saya melatih siswa menjadi bagian utama dalam berlangsungnya diskusi seperti ada yang bertindak sebagai moderator, penyaji ( presenter ), pemberi tanggapan, pembuat simpulan, dan notulis.

Nilai berikutnya adalah “Mandiri”, menurut saya mandiri adalah kesiapan dan kemampuan individu untuk berdiri sendiri yang ditandai dengan mengambil inisiatif. Selain itu mencoba mengatasi masalah tanpa meminta bantuan orang lain, berusaha dan mengarahkan tingkah laku menuju kesempurnaan. Contoh perilaku mandiri : Mengambil inisiatif melakukan pembelajaran yang menyamankan siswa tanpa perlu menunggu komando, selama yang dilakukan tidak melanggar aturan.

Saya pernah melakukan pembelajaran melalui FB messenger, yang bisa dioperasikan dengan gratis, tanpa biaya. Ketika itu siswa mengeluhkan tidak punya kuota (awal pandemi, ketika belum ada bantuan dari Kemdikbud). Saya mengambil cara itu supaya pembelajaran jarak jauh tetap berjalan tanpa membebani siswa/orang tua dengan biaya tambahan pembelian kuota internet.

Selanjunya “Reflektif”, merupakan suatu kemampuan untuk menghubungkan pengetahuan yang diperolehnya dengan pengetahuan sebelumnya, sehingga diperoleh suatu kesimpulan untuk menyelesaikan permasalahan yang baru.

Perilaku reflektif seorang guru penggerak misalnya ketika ia telah menyelesaikan suatu aksi, maka ia akan mencatat dan memasukkannya dalam diri, mengendapkan hal positif untuk ditingkatkan, menyimpan hal negatif untuk ditambah. Menjadikan keduanya sebagai sarana menjadi diri yang lebih baik setiap waktu. Semua yang terjadi tidak dibiarkan berlalu begitu saja, etapi selalu mengambil hikmah.

Pengalaman saya ketika menerapkan pembelajaran dengan memakai modul berbentuk file word, saya mendapati beberapa siswa kesulitan, ternyata aplikasi di gawai mereka belum support. Hal seperi ini seharusnya sudah saya antisipasi. Misalnya dengan mengubah file menjadi pdf terlebih dahulu, supaya semua peserta didik bisa membaca dari gawai mereka ( hampir semua gawai bisa membuka dan membaca file pdf).

Bagian berikutnya “Kolaborasi”, merupakan suatu sikap saling ketergantungan secara positif, dibarengi tanggung jawab setiap individu, kerjasama, serta keterampilan komunikasi interpersonal.

Contoh perilaku yang bisa dilakukan oleh seorang Guru Penggerak terkait nilai Kolaboratif adalah bersama-sama guru lain mencari solusi permasalahan yang ditemui anak didik, baik masalah akademik maupun non akademik.

Ada seorang siswa yang poin akademiknya realtif tidak bagus. Beberapa guru mata pelajaran mengatakan siswa sering bolos, sering terlambat, mengantuk di kelas, dan tidak mengerjakan tugas. Saya bersama-sama guru BK mencari penyebab nilai siswa ini rendah. Setelah dilakukan home visit, diketahui bahwa ada beberapa faktor penyebab, yaitu siswa ini yatim, harus membantu ibunya berjualan lontong tahu saat malam hari. Melalui konseling, siswa membuat kesepakatan bahwa akan berusaha membagi waktu untuk belajar dan membantu ibunya. Sekolah pun membebaskan siswa ini dari segala iuran dan sumbangan pendidikan.

Yang tak boleh terlupa adalah inovatif. Kata kunci nilai inovatif adalah kreatif, ide baru, adaptasi, dan modifikasi. Contoh perilaku inovatif seorang Guru Penggerak adalah menemukan cara baru untuk diterapkan, sehingga pembelajaran tak terasa sebagai beban, tetapi tetap bermakna bagi siswa, menggunakan berbagai sumber belajar, menyenangkan, dan sesuai dengan cara belajar siswa.

Pada pembelajaran menulis cerpen, saya gunakan aplikasi Smart Apps Creator, bisa diinstal di ponsel siswa. Aplikasi ini mudah dibuat, tak perlu menjadi ahli IT untuk melakukannya. Hasilnya bisa langsung dipraktikkan pada siswa kita. Mereka bisa memainkannya secara offline. Jadi pembelajaran bahasa tidak melulu tentang menulis di buku atau file word kemudian dikirim via email pada guru.

Bagian terakhir, “Berpihak pada Murid” berarti bisa menempatkan diri seandainya guru menjadi murid, respek pada murid, tidak didasarkan pada rasa suka atau tidak suka murid maupun guru. Keberpihakan pendidik harus selalu pada kebenaran. Memfasilitasi bakat, minat, cita-cita anak sejauh yang dia inginkan tidak bertentangan dengan kebenaran itu. Anak juga tidak boleh melanggar prinsip kebenaran atas nama bakat, minat, dan cita-cita.

Di sisi lain, seorang guru tidak bisa disebut respek pada murid kalau dia memaksakan materi atau cara mengajarnya secara membabi buta. Saya berusaha memberikan pembelajaran yang bermakna, yang membuat siswa bisa menggunakannya untuk menghadapi hidup yang sebenarnya.

Misal di SMK Negeri 2 Tulungaung, saya berikan pembelajaran wawancara kerja ketimbang belajar main menjadi orator ketika harus mengulas KD yang terkait kemampuan berbicara. Ini lebih dibutuhkan, mengingat mereka harus menghadapinya ketika ikut rekrutmen di kelas XII. Saya buat simulasi seolah mereka benar-benar akan melakukan proses itu, agar mereka siap dan berhasil menghadapinya.

Jika ada rekan guru ataupun Kepala Sekolah yang kurang mendukung dalam menjalankan peran saya sebagai Guru Penggerak, saya selalu berusaha mendekat, dengan kepala dingin, dan hati hangat, tidak ada yang tak luluh. Terus melakukan komunikasi intensif dengan rekan guru dan kepala sekolah, tentang pentingnya mewujudkan merdeka belajar melalui penerapan Peran Guru Penggerak. Tiada henti berkolaborasi dengan pihak yang mendukung dalam menerapkan Peran Guru Penggerak. Kolaborasi ini akan memberikan hasil positif terhadap siswa.

Memulai dari diri, merlakukan perubahan, memberikan contoh, menerapkan nilai-nilai Guru Penggerak dalam kegiatan sehari-hari. Dengan menerapkan nilai-nilai Guru Penggerak, akan terjadi perubahan dalam pembelajaran, karakter, dan sikap siswa. Perubahan ini akan dirasakan oleh siswa, guru, maupun kepala sekolah. Dengan adanya perubahan, akan membuka pikiran, hati, dan wawasan rekan guru ataupun kepala sekolah yang awalnya kurang mendukung. Insya Allah akan berubah menjadi pro. Selalu berdoa pada pemilik hati, penguasa, yang Maha membolak-balikkan hati manusia.

 


Senin, 18 Desember 2017

kunci surga (berbakti kepada orang tua)



BERBAKTI KEPADA ORANG TUA
Orang tua adalah  orang yang telah melahirkan, merawat, mendidik mengurus dan memikirkan  kita sejak kecil sampai dewasa, dia tidak pernah  memikirkan diri sendiri tetapi selalu memikirkan anak-anaknya, dia rela sengsara asal anaknya bahagia, dia rela sakit aslakna anaknya sehat, dia rela tidak makan  asalkan anaknya makan, dia selau bohong kepada banyak orang, jika di tanya apakah engkau sudah  makan ?dia selalu mnejawab “ saya sudah kenyang,  walaupun sebenarnya dia belum makan.
Orang tualah yang menjadikan anaknya sukses, kaya, bahagia dan lain sebagainya, maka jika ada anak yang mengatakan bahwa kesuksesanku adalah usahaku, maka itu tidak benar, dan  perlu kita ketahui bersama bahwa diatas kesuksesan anak itu karena dari doa dan usaha yang dilakukan oleh orang tua, orang tua tidak pernah tidur malam  karena memikirkan dan selalu berdoa untuk anak-anaknya, mereka tidak ingin anak-ankanya kelak  menjadi anak yang tidak berguna, mereka tidak ingin anaknya kelak menjadi orang yang sengsara, mereka selalu memikirkan anak-anaknya walaupun mereka tidak mampu tapi selalu berusaha untuk mendapatkan apa yang diinginkan oleh anaknya.
Banyak cerita-cerita yang menjelaskan tentang ketika anak tidak berbakti kepada orang tuanya maka hidupnya kurang bahagia, kurang barokah dan kurang segalanya, seperti halnya ceritanya alqomah, “di masa kenabian Nabi Muhammad SAW, dulu ada seorang anak laki-laki bernama alqomah, dia seorang yang rajin dalam masalah ibadah shalat, puasa, dan sedekah, namun suatu waktu dia jatuh sakit yang teramat parah, tepatnya dalam keadaan sakaratul maut. Namun entah kenapa alqomah yang taat itu kesulitan untuk melafalkan kalimat “ Lailaaha illallah” hingga sang istri meminta tolong pada seseorang untuk menemui Rasulullah SAW, untuk menyampaikan pesan tentang keadaan suaminya pada Rasulullah SAW. Nabi pun mengutus Bilal, Ali, Salman dan Ammar r.a untuk datang ke rumah Alqomah. Di sana mereka menyaksikan betapa Alqomah dalam keadaan yang memprihatikan. Mereka bertanya-tanya bagaimana mungkin seorang yang taat pada Allah dan Rasulnya itu kesulitan dalam melafalkan kalimat “La ilaaha illallah”. Lidah Al-Qomah seperti terkunci ketika akan melafalkan kalimat itu. Merasa khawatir mereka kini mengutus Bilal untuk menyampaikan apa yang mereka saksikan kepada Rasulullah. Rasulullah pun bertanya, “Apakah Alqomah masih memiliki ayah dan ibu?” “Ayahnya sudah  meninggal. Tapi dia masih memiliki seorang ibu yang sudah renta,” jawab Bilal apa adanya.
“Baiklah, temuilah  ibu Alqomah. Aku titip salam untuknya. Jika dia masih mampu berjalan dia bisa menghadapku, jika tidak bisa maka aku yang akan ke sana.” Rasulullah menitahkan itu pada Bilal. Sebagaimana yang dikatakan Rasulullah, Bilal menyampaikan itu pada Ibu Alqomah tanpa menambah dan mengurangi. “Lebih baik aku yang menemui Rasulullah,” ucap Ibu Alqomah. Meski sedikitt tertatih-tatih dengan tongkat sebagai penyangga, Ibu Alqomah menemui Rasulullah. Dia mengulukkan salam dan langsung disambut Rasulullah. “Jadi bisakan ibu menceritakan bagaimana keadaan Alqomah yang sebenarnya? Kenapa dia nampak kesulitan melafalkan kalimat “La ilaahs illallah’, padahal setahu saya dia seorang hamba yang rajin lagi taat.” Rasulullah meminta penjelasan. “Karena aku murka padanya, Rasulullah.” Ibu Alqomah menjawab. “Adakah alasan kenapa engkau sampai murka?” “Karena Alqomah sudah  menyakitiku. Dia lebih mengutamakan istri daripada ibunya. Dia berani menentangku demi menuruti keinginan istrinya.” Rasululllah pun mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. Bahwa yang mengunci lidah Alqomah hingga tidak bisa melafalkan  kalimat “Laa ilaaha illallah” adalah karena murka dari ibunya sendiri. Kemudian Rasulullah memanggil Bilal. Menyuruh Bilal untuk meengumpulakn kayu sebanyak-banyaknya untuk membakar tubuh Alqomah. “Ya Rasululah, kenapa engkau mau membakar putraku di depan mataku? Bagaimana perasaanku nanti?” tanya Ibu Alqomah sedih. Yah, bagaimana pun seorang ibu mana bisa melihat putranya di bakar di depan matanya sendiri. “Wahai Ibu Alqomah, sejatinya siksa Allah nanti di akhirat akan lebih kejam. Segala amal yang dilakukannya selama ini tidak dapat diterima oleh Allah karena terhalang akan siksamu. Kebajikan yang dilakukan jadi tidak berguna dan tak bisa membantu selamat dari api neraka..” Rasulullah menjelaskan. “Jika engkau ingin putramu selamat dari api neraka, engkau harus merelakan apa yang telah Alqomah  lakukan.” “Baiklah Rasulullah, aku akan memaafkan putraku. Aku sungguh tak sanggup mengetahui jika anakku akan masuk neraka karena diriku.” Ibu Alqomah berucap sungguh-sungguh. Rasulullah lalu memerintahkan Bilal untuk mengecek keadaan Alqomah. Memastikan apakah Alqomah sudah bisa melafalkan kalimat “ Laa ilaaha Illallah’ atau belum. Karena jika sang ibu mengatakan semua itu hanya karena malu bukan dari hati maka apapun bisa terjadi. Namun ternyata Ibu Alqomah sungguh tulus telah memaafkan putranya. Karena ketika Bilal sampai di pintu rumah Alqomah, dia mendengar Alqomah mengucapkan kalimat “Laa ilaaha illallah”. Bilal lalu masuk dan memberitahu apa yang sebenarnya telah terjadi pada keadaan bilal itu. Tentang lidah Alqomah yang terkunci tidak bisa mengucapkan kalimat syahadat karena mendapat murka dari ibunya. Bahwa segala amal yang dilakukan Alqomah tak dapat menolong karena murkanya seorang ibu pada anak. Dan hari itu setelah ibunya memaafkan Alqomah, dia pun kembali kerahmatalullah. Dia lalu dimandikan, dikafani dan di shalatkan oleh Rasulullah. Setelah dikuburkan Nabi Muhammad  saw berkata : “Wahai sahabat muhajirin dan anshar, siapa yang  mengutamakan istrinya daripada ibunya maka ia terkena laknat Allah, Malaikat dan manusia semuanya, bahkan Allah tidak menerima dari padanya ibadah fardu dan sunatnya. Kecuali jika bertaubat benar-benar kepada Allah dan berbuat baik pada ibunya, dan minta kerelaannya, sebab ridha Allah dikaitkan dengan ridha ibu, dan murkanya Allah juga di dalam murka Allah.
            Itulah salah satu kisah tentang ketika ada anak berani kepada orang tua, maka akan ada ujian yang diterima oleh anaknya, kita tidak boleh berani kepada orang tua, kita dilarang berkata “huss”  kepada orang tua apalagi berkata yang jelek kepada orang tua. Semoga dengan berbakti kepada orang tua, hidup kita menjadi berkah dan bahagia dunia akhirat amin

Jumat, 16 Oktober 2015

dakwatuna.com – Alhamdulillah, sampailah kita kepada awal tahun Hijriah yakni bulan Muharram. Bulan yang disebut sebagai asyhurul hurum (bulan-bulan haram). Ayat Quran juga hadits menyebutkan perihal bulan haram ini. Disebutkan dalam hadits bahwa 4 bulan itu salah satunya adalah Muharam. Bulan tersebut adalah yang disucikan dan diagungkan. Walaupun memaknainya ada perbedaan.
Maksud disucikan di sini ulama berbeda pendapat. Di antaranya ada yang mengatakan bahwa di bulan-bulan ini diharamkan untuk berperang dan bunuh membunuh seperti firman Allah dalam QS Al-Baqarah: 217. Ada juga yang menafsirkan bahwa bulan suci ini agar setiap muslim banyak beramal di 4 bulan tersebut. Tapi dalam artian dewasa atau tidak dipahami dengan mafhum mukhalafah yang jadinya hanya beramal shalih di bulan tersebut. Karena sudah ada perintah amal shalih untuk setiap waktu.
Tidak seperti tahun baru Masehi. Pada awal bulan Muharam Indonesia lebih khusus umat Islam terkesan tidak peduli. Memang banyak masjid-masjid mengadakan acara demi lebih memanfaatkan malam tahun baru Islam ini. Tapi itu kiranya tak sebanyak mereka yang merayakan tahun baru Masehi. Memang dalam memaknai tahun baru Islam bukan harus dengan petasan yang berdendang atau kembang api yang benderang di langit. Tapi di acara Islamipun memang nyatanya nihil pengunjung, untuk sekedar pawai obor kita hanya bisa menemukan di beberapa tempat saja. Bahkan sulit sekali “Selamat Tahun Baru Islam” naik podium jadi trending topic, yang justru acara di TV tetangga lebih tinggi.
Islam sebagai agama mayoritas dunia dan Indonesia seperti lupa kepada perjuangan hijrah Rasulullah dan sahabat yang menjadi awal ditentukan tahun hijriah, begitulah menurut para sahabat. Mereka takut kehilangan hartanya untuk sekedar menginfakkan dalam rangka memperingati 1 Muharam. Tapi beda halnya jika akan datang 1 Januari. Dengan relanya mereka membakar uang jutaan hanya untuk mendengar suara petasan dan percikan kembang api. Bahkan sampai berlomba-lomba. Walau yang melakukan tidak semuanya muslim.
Kita bisa membayangkan betapa hebatnya jika gelontoran dana pada 1 Muharam sama halnya dengan 1 Januari atau bahkan lebih besar. Milyaran bahkan triliunan rupiah dihabiskan hanya untuk semalam dan tidak dapat hasil apa-apa kecuali kesenangan mata dan telinga. Dan berapa masjid bisa dibangun dengan dana sebesar itu, berapa miskin akan terobati dengan uang sesegar itu.
Itu hanyalah hitungan matematika. Tapi marilah kita lebih memaknai dengan perhatian kita kepada umat Islam dan amal shalih. Ilmu matematika manusia itu tidak seberapa, tapi dalam matematika Alllah itu sangatlah besar. Biarlah diri ini memaknai tahun baru Hijriah dengan mengingat hijrah Rasulullah ke Madinah dan rumitnya jalan dakwah yang dilewati.
Pada akhirnya kita bertugas untuk menyampaikan dakwah yang Rasul sampaikan dulu. Dan tahun baru Islam kali ini mari kita buat harapan, tujuan dan langkah yang akan kita lakukan untuk menopang dakwah ini. Sambil memperbaiki banyak hal yang kurang di tahun sebelumnya. Semoga di tahun 1437 H ini kita bisa lebih berperan bagi dakwah Islam, karena Islam akan menang dengan kita di dalamnya atau tanpa kita.
Redaktur: Ardne

Sumber: dakwatuna

Senin, 03 Agustus 2015

Kisah Persahabatan KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan

Pendiri NU dan Muhammadiyah ini ternyata menimba ilmu pada guru yang sama. (inet).  (republika.co.id)
Pendiri NU dan Muhammadiyah ini ternyata menimba ilmu pada guru yang sama. (inet). (republika.co.id)
dakwatuna.com – Jakarta.  Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah merupakan dua ormas Islam terbesar di Tanah Air. Ternyata, pendiri NU dan Muhammadiyah memiliki keterkaitan satu sama lain. KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan sama-sama menuntut ilmu dari guru yang sama.
Dikutip dari republika.co.id, Berikut penjelasan Wakil Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), Fahmi Salim tentang sepak terjang KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan dalam menegakkan Islam di Indonesia sejak sebelum bangsa ini merdeka:
Menyambut Muktamar NU dan Muhammadiyah..
Sebuah bincang tentang 4 orang murid Syaikhana Cholil Bangkalan yang akan jadi tonggak dakwah Indonesia. Dari 4 orang murid Syaikhana Cholil itu, NU, Muhammadiyah,MIAI dan Masyumi terpondasi.
  1. Awal 1900-an 4 murid tamatkan pelajarannya pada Kyai Cholil di Bangkalan Madura. Menyeberangi selat, 2 ke Jombang, ke Semarang.
  2. Dua murid yang ke Jombang, 1 dibekali cincin (kakek Cak Nun), 1 lagi KH Romli (ayah KH Mustain Romli) dibekali pisang mas.
  3. Dua murid yang ke Semarang; Hasyim Asy’ari & Muhammad Darwis, masing masing diberi kitab untuk dingajikan pada Kya Soleh Darat.
  4. Kyai Soleh Darat adalah ulama terkemuka, ahli nahwu, ahli tafsir, ahli falak; keluarga besar RA Kartini mengaji pada beliau. Bahkan atas masukan Kartini-lah, Kyai Soleh Darat menerjemahkan Al Quran ke dalam bahasa Jawa agar bisa difahami.
  5. Pada Kyai Soleh Darat, Hasyim dan Darwis (yang kemudian berganti nama jadi Ahmad Dahlan) belajar tekun dan rajin,lalu ‘diusir’. Kedua sahabat itu; Hasyim Asy’ari dan Ahmad Dahlan diperintahkan Kyai Soleh Darat segera ke Mekkah untuk menlanjutkan belajar.
  6. Setiba di Mekkah, keduanya nan cerdas menjadi murid kesayangan Imam Masjidil Haram, Syaikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi. Tampaklah kecenderungan Hasyim yang sangat mencintai hadist, sementara Ahmad Dahlan tertarik bahasan pemikiran dan gerakan Islam.
  7. Tentu riwayat jalan berilmu mereka panjang. Saya akan melompat pada kepulangan mereka ketanah air & gerakan nan dilakukan.
  8. Hasyim Asy’ari pulang ke Jombang. Disana kakek Cak Nun (yang maafkan saya terlupa namanya) menantinya penuh rindu. Kakek Cak Nun nan ‘sakti’ inilah yang menaklukkan kawasan rampok dan durjana bernama Tebuireng untuk didirikan pesantren.
  9. Hasyim Asy’ari dia mohon agar mulai berkenan mulai mengajar disitu. Beliau membuka pengajian ‘Shahih Al Bukhari’ disana.
  10. Fahamlah kita, satu satunya orang yang bisa bujuk Gus Dur keluar istana saat impeachment dulu ya Cak Nun. Ini soal nasab. 
  11. Saat disuruh mundur orang lain, Gus Dur biasanya jawab: “saya kok disuruh mundur, maju aja susah, harus dituntun!”. Tapi Cak Nun tidak menyuruhnya mundur. Kata beliau “Gus,koen wis wayahe munggah pangkat!” Sudah saatnya naik jabatan!”.
  12. KH Romli Tamim yang juga di Jombang mendirikan pesantren di Rejoso, kelak jadi pusat Thariqoh Al Mu’tabarah yang disegani.
  13. Kembali ke Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari, CATAT INI : beliaulah orang yang menjadikan pengajian hadist penting & terhormat. Sebelum Hadratusy Syaikh memulai ponpes Tebuireng-nya dengan kajian Shahih Al Bukhari, umumnya ponpes cuma ajarkan tarekat.
  14. Tebuireng makin maju, santri berdatangan dari seluruh nusantara. Hubungan baik terjalin dengan Kyai Hasbullah, Tambakberas. Putra Kyai Hasbullah, Abdul Wahab kelak jadi pendiri organisasi islam terbesar yang dinisbatkannya pada Hadratusy Syaikh :NU. Konon selama KH Abdul Wahab Hasbullah dalam kandungan, ayahnya mengkhatamkan Al-Quran 100 kali diperdengarkan pada si janin.
  15. Tebuireng juga berhubungan baik dengan KH Bisyri Syamsuri Denanyar. Abdul Wahid Hasyim menikahi putri beliau (ibu Gus Dur).
  16. KH Bisyri Syansuri juga beriparan dengan KH Abdul Wahab Hasbullah. Inilah segitiga pilar NU; Tambakberas – Tebuireng – Denanyar.
  17. Satu waktu ada santri Hadratusy Syaikh melapor, dari Yogyakarta ada gerakan yang ingin memurnikan agama & aktif beramal usaha. “O kuwi Mas Dahlan”, ujar Hadratusy Syaikh “Ayo padha disokong”!”. Itu Mas Dahlan, ayo kita dukung sepenuhnya.
  18. KH Ahmad Dahlan sang putra penghulu keraton itu amat bersyukur. Beliau kirimkan hadiah. Hubungan kedua keluarga makin akrab.
  19. Sampai generasi ke-4, putra putri Tebuireng yang kuliah di Yogya selalu kos di keluarga KH Ahmad Dahlan Kauman (Gus Dur juga).
  20. Sebagai bentuk dukungan pada perjuangan KH Ahmad Dahlan, Hadratusy Syaikh menulis kitab ‘Munkarat Maulid Nabi wa Bida’uha’, bagi Hadratusy Syaikh, itu banyak bid’ah & mafsadatnya. UNIK: satu satunya Kyai NU yang tidak diperingati HAUL nya ya beliau.
  21. Ketika akhirnya gesekan makin sering terjadi antara anggota Muhammadiyah vs kalangan pesantren, Hadratusy Syaikh turun tangan. “Kita & Muhammadiyah sama. Kita Taqlid Qauli (mengambil PENDAPAT ‘ulama Salaf’), mereka Taqlid Manhaji (mengambil METODE)”.
  22. Tetapi dipelopori KH Abdul Wahab Hasbullah, para murid menghendaki kalangan pesantren pun terorganisasi baik. NU berdiri. Direstui Hadratusy Syaikh, Abdul Wahab Hasbullah & rekan berangkat ke Mekkah menghadap raja Saudi sampaikan aspirasi Madzhab. Kepulangan mereka disambut Hadratusy Syaikh dengan syukur sekaligus meminta untuk terus bekerjasama dengan Muhammadiyah.
  23. Atas prakarsa Hadratusy Syaikh, KH Mas Mansur -Muhammadiyah- & tokoh lain, terbentuklah Majlisul Islam A’la Indunisiya (MIAI).
  24. Mengapa kisah Khalil dari Bangkalan & murid muridnya penting? Agar terjaga fikiran, lisan & perkataan kita yang mengaku pewaris dakwah hari ini.
  25. Yang tidak memahami sejarah, nasab keluarga & sanad ilmu akan kesulitan memahami & membawakan dakwah pada kalangan tertentu.
  26. Jika kini sebagian santri yang bernasab baik & bernasab ilmu itu jadi Liberal; naiflah memusuhi tanpa kelayakan untuk didengar kalangannya
Baik NU dan Muhammadiyah sama-sama sedang menyelenggarakan perhelatan lima tahunan. Muktamar NU ke-33 digelar di Jombang pada 1-5 Agustus, dan Muktamar Muhammadiyah ke-47 dihelat di Makassar pada 3-7 Agustus.
Dikutip dari sindonews.com, Muktamar ke-33 NU di Jombang, Jawa Timur telah dibuka Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Sabtu (1/8) lalu. Banyak harapan muncul dari gawe besar organisasi yang dilahirkan KH Hasyim Asyari ini. Bagaimanapun harus diakui peran NU sangat besar dalam ikut mewarnai dan membangun keutuhan Republik ini.
Seperti halnya NU, Muhammadiyah juga memiliki kontribusi yang besar bagi pembangunan dan kemajuan bangsa Indonesia. Dengan pendekatan yang berbeda dengan NU, Muhammadiyah juga mampu eksis dan bertahan di tengah serangan gelombang globalisasi dan demokratisasi yang melanda dunia termasuk Indonesia. Keberadaan Muhammadiyah dalam membawa pendidikan Islam modern harus diakui cukup memberikan warna dalam memajukan pendidikan Indonesia secara umum. (sbb/dakwatuna)